Demo 1998 Era soeharto – Gerakan Mahasiswa Indonesia – Sebuah Gerakan Perubahan Sosial – Reformasi

PENDAHULUAN 

Kehidupan suatu bangsa takkan terlepas dari kaum terpelajarnya, terutama mahasiswa. Begitu pula dengan kehidupan bangsa Indonesia yang selalu diiringi oleh pergerakan mahasiswanya. Gerakan mahasiswa Indonesia ini memiliki peran yang cukup penting dan juga tidak bisa dianggap remeh, karena gerakan mahasiswa dapat mempengaruhi kehidupan politik bangsa ini, misalnya saja gerakan mahasiswa tahun 1966 (menuntut pembubaran PKI), 1974 (peristiwa Malari), dan 1998 (menuntut reformasi dan menuntut Soeharto untuk mundur).

Dari berbagai gerakan mahasiswa di Indonesia, yang memiliki kekuatan terbesar adalah gerakan mahasiswa tahun 1998. Betapa tidak, gerakan mahasiswa pada saat itu dapat memaksa pemimpin rezim Orde Baru –yang telah berkuasa selama 32 tahun–  Soeharto untuk mundur dari kekuasaannya. Menarik untuk dibahas, bagaimana rezim yang telah terbentuk selama hampir sepertiga abad itu dapat runtuh oleh para mahasiswa yang bersatu dari seluruh Indonesia. Meskipun bukan satu-satunya penentu keberhasilan dalam meruntuhkan rezim Orde Baru, gerakan mahasiswa pada periode ini tetap menarik perhatian, karena dapat mewujudkan suatu perubahan sosial dalam kehidupan bangsa Indonesia. Padahal belum lama sebelum itu, golongan mahasiswa ini baru saja bangkit dari “hibernasi”Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan(NKK/BKK) yang telah membungkam mereka selama kurang lebih tiga windu.

***

RESUME

Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998 adalah sebuah gerakan sosial yang dilakukan oleh kaum terpelajar (mahasiswa) untuk menuntut reformasi di Indonesia. Gerakan ini merupakan puncak gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat pro-demokrasi pada dekade tahun sembilan puluhan. Gerakan ini menjadi dianggap berhasildan monumental, karena akhirnya dapat memaksa Soeharto berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998.

Baca Juga :
Sejarah Singkat Petrus (Penembak Misterius) di Era 1980 an
Sejarah Tanjung Priok 1984

Meski salah satu agenda perjuangan mahasiswa yaitu menuntut lengsernya sang Presiden telah tercapai, namun banyak yang menilai agenda reformasi belum tercapai atau malah gagal. Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998 ini banyak mendapatkan perhatian dari dunia internasional, karena gerakan ini mencuatkan tragedi Trisakti yang menewaskan empat orang mahasiswa dari universitas Trisakti yang kemudian didaulat sebagai Pahlawan Reformasi. Pasca Soeharto mundur, nyatanya masih terjadi kekerasan terhadap rakyat dan mahasiswa, yang antara lain mengakibatkan tragedi Semanggi yang berlangsung hingga dua kali. Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998 juga memulai babak baru dalam kehidupan bangsa Indonesia, yaitu era Reformasi.

***

ANALISIS

Gerakan mahasiswa adalah suatu gerakan rakyat yang dilakukan oleh para mahasiswa dimana pergerakan tersebut diorientasikan pada kepentingan rakyat (kerakyatan). Sedangkan gerakan mahasiswa Indonesia 1998 adalah suatu gerakan yang dilakukan oleh para mahasiswa Indonesia untuk menentang kebijakan presiden Soeharto, karena kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemimpin rezim Orde Baru tersebut dinilai telah menyimpang dari Pancasila dan UUD 1945. Misalnya saja praktik KKN yang merajalela, gaya kepemimpinan Soeharto yang dinilai telah menghilangkan demokrasi dengan cara memberangus segala macam bentuk kritik, dan sebagainya.

Kajian Teori

Definisi Mahasiswa

Menurut Susanturo(http://blog.unila.ac.id), mahasiswa adalah kalangan muda yang berumur 19 – 28 tahun, yang memang pada masa itu mengalami peralihan dari tahap remaja ke tahap dewasa. Susantoro mengatakan bahwa sosok mahasiswa kental dengan suasanakedinamisan dan sikap keilmuannya yang dalam melihat sesuatu berdasarkan kenyataan objektif, rasional dan sistematis. Sedangkan Kenniston (http://blog.unila.ac.id) menyatakan bahwa mahasiswa adalah suatu priode yang disebut dengan studenthood (masa belajar) yang terjadi hanya pada individu yang memasuki post secondary education dan sebelum masuk kedalam kedunia kerja yang menetap.

Teori Gerakan Sosial

Gerakan mahasiswa pada dasarnya merupakan suatu gerakan sosial yang salah satu bentuk utamanya adalah perilaku kolektif. Menurut Turner dan Killian(http://tuhan.multiply.com) dalam karya mereka Collective Behaviour (1987), mengemukakan gerakan sosial sebagai ‘… a collectivity acting with some continuity to promote or resist a change in the society or organisation of which it is part yakni suatu kolektivitas yang melakukan kegiatan dengan kadar kesinambungan tertentu untuk menunjang atau menolak perubahan yang terjadi dalam masyarakat atau kelompok yang mencakup kolektivitas itu sendiri. Sehingga disini dapat dilihat bahwa masyarakat atau kelompok yang melakukan suatu gerakan sosial merasakan adanya persamaan nasib –yang biasanya bersifat negatif.Dalam kaitannya dengan gerakan mahasiswa 1998, teori ini cukup relevan. Krisis ekonomi yang parah sejak Juli 1997 menimbulkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Mahasiswa dan masyarakat kelas menengah Indonesia, yang selama ini terkesan diam dan menurut pada pemerintah, mulai gelisah dan akhirnya melakukan suatu   gerakan reformasi dikarenakan adanya persamaan nasib yang kemudian memunculkan suatu perilaku kolektif untuk memperjuangkan perubahan sosial.

Gerakan mahasiswa 1998 dapat disebut sebagai pelopor terjadinya perubahan sosial di Indonesia. Menurut Ricardi (http://syaldi.web.id), pada masa itu munculconscience collective, yakni suatu kesadaran bersama dimana mahasiswa merupakan satu kelompok yang harus bersatu padu untuk mewujudkan terjadinya suatu perubahan sosial.Neil Smelser (http://syaldi.web.id) memberikan pendekatan yang lebih komprehensif dalam munculnya perilaku kolektif. Menurutnya, ada enam syarat pra-kondisi yang harus terjadi, yaitu:kondusif struktural, ketegangan struktural, kemunculan dan penyebaran pandangan, faktor pemercepat, Mobilisasi tindakan, dan pelaksanaan kontrol sosial. Dalam konteks gerakan mahasiswa di Indonesia, keenam syarat itu terpenuhi: pertama kondisi sosial masyarakat saat itu yang mendukung aksi-aksi mahasiswa, kedua adanya kesamaan rasa tertindas oleh pemerintah, ketiga penyebaran serta gagasan dengan landasan kebenaran, hak asasi manusia dan rakyat sebagai dasar perjuangan , keempat adanya faktor pemicu dengan gugurnya mahasiswa Universitas Trisakti yang kemudian berlanjut pada peristiwa lainnya , kelima adanya usaha mobilisasi aksi dengan berbagai elemen masyarakat dan terakhir adalah adanya tekanan dari negara atau bentuk kontrol sosial lainnya yang berusaha menggagalkan/mengganggu proses perubahan.

Berdasarkan pemaparan diatas, jelas bahwa gerakan mahasiswa pada tahun 1998 adalah satu proses reformasi dalam perubahan sosial. Gerakan ini merupakan upaya untuk memajukan masyarakat tanpa banyak mengubah struktur dasarnya. Gerakan semacam ini biasanya muncul di negara-negara yang demokratis.

Latar Belakang Munculnya Gerakan Mahasiswa 1998

Sebenarnya gerakan reformasi yang dipelopori mahasiswa pada tahun 1998 ini merupakan akumulasi dari kekesalan rakyat sejak awal orde baru, sehingga terlihat kekesalan rakyat yang sudah sangat complicated atau kompleksitu akhirnya berujung pada kemarahan publik terhadap pemerintah yang berlangsung di akhir dekade 90’an. Ada berbagai faktor yang mendorong mahasiswa melakukan pergerakan menuntut reformasi,  antara lain:

  1. Penyalahgunaan wewenang Soeharto sebagai presiden

a. KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang merajalela

            Banyak kasus-kasus KKN yang melibatkan para pejabat yang tidak diusut sama sekali. Tentu saja hal ini membuat jurang pemisah antara si kaya dan si miskin menjadi semakin lebar.

               b. Pencurian kekayaan Negara

Dalam buku panduan yang dikeluarkan PBB, dalam peluncuran prakarsa penemuan kembali kekayaan yang dicuri (Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative di Markas Besar PBB, New York, disebutkan bahwa Soeharto (1967-1998) berada dalam daftar urutan pertama pencurian aset Negara, dengan total diperkirakan 15 miliar dolar hingga 35 miliar dolar AS. Selain itu, enam anak Soeharto pun dimanjakan dengan pemilikan saham dalam jumlah signifikan sekurang-kurangnya di 564 perusahaan, dan kekayaan luar negeri mereka mencakup ratusan perusahaan-perusahaan lainnya.

   c. Sistem pemerintahan yang berubah menjadi otoriter

Untuk melanggengkan kekuasaannya, Soeharto lancarkan beberapa strategi selama memimpin, antara lain:

  • Melakukan penyederhanaan/fusi partai-partai saingan Golkar untuk mempersempit ruang gerak lawan politiknya.
  • Membredel media massa yang mengkritik pemerintah, contohnya Harian Sinar Harapan (1986), Tempo, Editor dan Detik (1994).
  • Membungkam mahasiswa melalui pemberlakuanNormalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK)

     2. Pembangunan yang semu

Pembangunan di Indonesia dinilai semu belaka, karena untuk melaksanakan pembangunan Soeharto hanya memanfaatkan pinjaman hutang luar negeri dan penanaman modal asing. Pembangunan keropos tersebut akhirnya menjerumuskan Indonesia ke titik ekonomi terburuk saat terjadi krisis moneter yang melanda Asia pada akhir dekade 90’an.

Baca Juga :
Pahlawan Revolusi Korban G30S PKI
Enaknya Jaman Soeharto daripada Jaman Sekarang

     3. Krisis moneter

Krisis moneter yang melanda Indonesia dan Negara-negara Asia lainnya membuat nilai rupiah anjlok hingga sempat menyentuh level Rp 20.000 per US$, harga-harga kebutuhan pun melambung tinggi, sehingga daya beli masyarakat berkurang.

     4. Kondisi sosial masyarakat

Kondisi masyarakat menjadi tidak menentu seiring krisis moneter yang melanda kawasan Asia. Kerusuhan pun banyak terjadi di berbagai daerah, tidak sedikit kerusuhan yang berbau SARA, seperti di Sambas, Poso dan Ambon.

     5. Adanya kesamaan rasa tertindas oleh pemerintah

Seperti yang telah dijelaskan diatas (poin 1c), pemerintahan yang dijalankan presiden Soeharto berlangsung secara otoriter. Sebagian besar rakyat merasa tertindas karena hak-haknya tidak diperhatikan, begitu pula dengan mahasiswa yang selalu dibuat bungkam oleh pemerintah. Oleh karena itulah tekanan yang dialami para mahasiswa untuk bangkit melawan ketertindasan semakin kuat.

     6. Tragedi Trisakti

Faktor inilah yang paling menyulut kemarahan para mahasiswa. Gugurnya empat mahasiswa Universitas Trisakti ini membakar semangat para mahasiswa untuk terus maju dan melakukan aksi, yang kemudian berlanjut pada peristiwa lainnya.

Atas dasar faktor-faktor diatas, kekesalan rakyat dan mahasiswa yang terakumulasi itu akhirnya tak dapat terbendung lagi. Akibatnya meletuslah berbagai demonstrasi dan kerusuhan dimana-mana.Dalam melihat fenomena ini, Ricardi(http://syaldi.web.id) melakukan pembagian lima kelompok mahasiwa dalam merespon kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya yang ada di masyarakat, antara lain:

  • Kelompok idealis konfrontatif, yaitu
  • Kelompok idealis realistis,yaitu mahasiwa yang memilih k
  • Kelompok oportunis, yaitu
  • Kelompok profesional, yang lebih berorientasi pada belajar atau kuliah.
  • Kelompok rekreatif, yang berorientasi pada gaya hidup yang glamou

Dalam kondisi semacam ini, mahasiswa Indonesiakebanyakan memilih berada dalam kelompok idealis konfrontatif. Mereka bergabung untuk satu tujuan, yakni menuntut pelaksanaan reformasi total di berbagai aspek kehidupan bangsa dengan cara melengserkan Soeharto dari jabatannya terlebih dahulu. Semangat para mahasiswa pun semakin menggelora ketika gerakan mahasiswa dengan agenda reformasi ini mendapat simpati dan dukungan dari rakyat.

Secara garis besar, pergerakan mahasiswa 1998 dapat dibagi menjadi dua tahapan, yakni sebelum Soeharto mengundurkan diri dan setelah Soeharto mengundurkan diri.

Gerakan Mahasiswa Sebelum Soeharto Mengundurkan Diri

Pada awal 1998 sebenarnya belum ada tanda-tanda bahwa akan muncul gerakan yang berarti untuk melawan kekuasaan Soeharto.Awalnya, aksi keprihatinan hanya di dalam kampus dan hanya melibatkan segelintir mahasiswa. Di luar kampus, sejumlah elemen ekstra kampus pun masih memprotes sebatas wacana dan sesekali tampil di media massa.

Aksi-aksi perlawanan berskala kecil baru muncul pada Maret 1998,beberapa saat menjelang MPR akan mengukuhkan kembali Soeharto sebagai presiden RI untuk ketujuh kalinya. Semula gerakan ini hanya berupa demonstrasi di kampus-kampus di berbagai daerah. Akan tetapi, para mahasiswa akhirnya memutuskan untuk turun ke jalan karena aspirasi mereka tidak mendapatkan jalan keluar. Keputusan untuk turun ke jalan ini membuat aparat kepolisian beserta militer selalu menjaga ketat setiap aksi yang dilakukan oleh mahasiswa, tak pelak aksi-aksi yang berlangsung sepanjang April hingga pertengahan Mei hampir selalu berakhir dengan bentrok antara mahasiswa dengan aparat. Namun kekerasan demi kekerasan itu tidak menyurutkan nyali mahasiswa. Gerakan mahasiswa dalam waktu singkat menjadi tren di kampus-kampus, dimulai dari Universitas Indonesia (UI) lalu menyebar ke perguruan tinggi lain di berbagai kota.  Atmosfer gerakan mahasiswa semakin hari semakin besar dan tidak bisa ditahan. Para mahasiswa kemudian menuntut reformasi dengan mengajukan enam agenda, antara lain:

ü  Suksesi kepemimpinan nasional

ü  Amendemen UUD 1945

ü  Pemberantasan KKN

ü  Penghapusan dwifungsi ABRI

ü  Penegakan supremasi hukum

ü  Pelaksanaan otonomi daerah.

Tapi sesungguhnya agenda utama gerakan reformasi ini adalah menuntut turunnya Soeharto dari jabatan presiden.Mereka juga membuat slogan “Turunkan Harga”yang juga dapat  diartikan “Turunkan Harto dan Keluarga”, karena Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) dan Bob Hasan, masuk dalam Kabinet Pembangunan VII.

Gedung wakil rakyat, yaitu Gedung MPR/DPR dan gedung-gedung DPRD di daerah, menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia. Berikut ini kronologi beberapa peristiwa penting selama gerakan reformasi yang memuncak pada tahun 1998:

1)      Demonstrasi Mahasiswa

Desakan atas pelaksanaan reformasi dalam kehidupan nasional dilakukan mahasiswa dan kelompok proreformasi. Pada tanggal 7 Mei 1998 terjadi demonstrasi mahasiswa di Universitas Jayabaya, Jakarta. Demonstrasi ini berakhir bentrok dengan aparat dan mengakibatkan 52 mahasiswa terluka. Sehari kemudian pada tanggal 8 Mei 1998 demonstrasi mahasiswa terjadi di Yogyakarta (UGM dan sekitarnya). Demonstrasi ini juga berakhir bentrok dengan aparat dan menewaskan seorang mahasiswa bernama Moses Gatotkaca. Dalam kondisi ini, Presiden Soeharto justru malah berangkat ke Kairo, Mesir tanggal 9 Mei 1998 untuk menghadiri sidang KTT Non-Blok.

2)      Peristiwa Trisakti

Tuntutan agar Presiden Soeharto mundur semakin kencang disuarakan mahasiswa di berbagai tempat. Tidak jarang hal ini mengakibatkan bentrokan dengan aparat keamanan.Setelah keadaan semakin panas dan hampir setiap hari ada demonstrasi tampaknya sikap Brimob dan militer semakin keras terhadap mahasiswa,apalagi sejak mereka berani turun ke jalan. Pada tanggal 12 Mei 1998 ribuan mahasiswa Trisakti melakukan demonstrasi menolak pemilihan kembali Soeharto sebagai Presinden Indonesia saat itu yang telah terpilih berulang kali sejak awal orde baru. Mereka juga menuntut pemulihan keadaan ekonomi Indonesia yang dilanda krisis sejak tahun 1997.

Mahasiswa bergerak dari Kampus Trisakti di Grogol menuju ke Gedung DPR/MPR di Slipi. Dihadang oleh aparat kepolisian mengharuskan mereka kembali ke kampus dan sore harinya terjadilah penembakan terhadap mahasiswa Trisakti. Penembakan itu berlangsung sepanjang sore hari dan mengakibatkan 4 mahasiswa Trisakti meninggal dunia, mereka adalah Elang Mulya Lesmana, Heri Hertanto, Hendriawan Sie, dan Hafidhin Royan. Keempat korban meninggal tersebut kemudian didaulat sebagai pahlawan reformasi oleh beberapa kalangan. Selain korban meninggal, puluhan orang lainnya baik mahasiswa dan masyarakat juga harus dilarikan ke masuk rumah sakit karena terluka.

Mari kita bandingkan
Fakta Kehebatan B.J. Habibie
Jendral Soeharto Presiden Terhebat ?
Fakta Menyedihkan Era Kepresidenan Megawati

 

Sepanjang malam tanggal 12 Mei 1998 hingga pagi hari, banyak warga yang marah dan melakukan perusakan di daerah Grogol hingga terus menyebar hingga ke seluruh kota Jakarta. Mereka kecewa dengan tindakan aparat yang menembak mati mahasiswa.Peristiwa Trisakti ini banyak mengundang simpati dari tokoh reformasi dan mahasiswa Indonesia.

3)      Kerusuhan 12-15 Mei 1998

Penembakan aparat di Universitas Trisakti itu menyulut demonstrasi yang lebih besar. Pada tanggal 12-13 Mei 1998 terjadi kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan di Jakarta dan Solo.Kerusuhan ini bukan didominasi oleh mahasiswa, melainkan didominasi oleh warga. Warga yang marah terhadap kebrutalan aparat keamanan atas meninggalnya 4 mahasiswa trisakti, mengalihkan kemarahan pada orang Indonesia sendiri yang keturunan, terutama keturunan Cina. Kondisi ini memaksa Presiden Soeharto mempercepat kepulangannya dari Mesir. Sementara itu, mulai tanggal 14 Mei 1998 demonstrasi mahasiswa semakin meluas. Bahkan, para demonstran mulai menduduki gedung-gedung pemerintah di pusat dan daerah.

4)      Pendudukan Gedung MPR/DPR

Dalam keadaan yang mulai terkendali setelah mencekam selama beberapa hari sejak tertembaknya mahasiswa Trisakti dan terjadinya kerusuhan besar di Indonesia, tanggal 18 Mei 1998 hari Senin siang, ribuan mahasiswa berkumpul di depan gedung DPR/MPR dan dihadang oleh tentara yang bersenjata lengkap, bukan lagi aparat kepolisian. Tuntutan mereka yang utama adalah pengusutan penembakan mahasiswa Trisakti, penolakan terhadap penunjukan Soeharto sebagai Presiden kembali, pembubaran DPR/MPR 1998, pembentukan pemerintahan baru, dan pemulihan ekonomi secepatnya.Kedatangan ribuan mahasiwa ke gedung DPR/MPR saat itu begitu menegangkan dan nyaris terjadi insiden, namun para mahasiswa tidak panik dan tidak terpancing untuk melarikan diri sehingga tentara tidak dapat memukul mundur mahasiswa dari gedung DPR/MPR. Akhirnya mahasiswa melakukan pembicaraan dengan pihak keamanan selanjutnya membubarkan diri pada sore hari dan pulang dengan menumpang bus umum.

Keesokan harinya mahasiswa yang mendatangi gedung DPR/MPR semakin banyak dan lebih dari itu mereka berhasil menginap dan menduduki gedung itu selama beberapa hari. Keberhasilan meduduki gedung DPR/MPR mengundang semakin banyaknya mahasiswa dari luar Jakarta untuk datang dan turut menginap di gedung tersebut. Mereka mau menunjukkan kalau reformasi itu bukan hanya milik Jakarta tapi milik semua orang Indonesia.

5)      Pengunduran Diri Presiden Soeharto

Setelah melihat kondisi yang semakin kacau, terlebih dengan pendudukan gedung MPR/DPR oleh mahasiswa, Soeharto akhirnya menyerah pada tuntutan rakyat yang menghendaki dia tidak menjadi Presiden lagi. Akhirnya, pada pukul 09.00 WIB Presiden Soeharto membacakan pernyataan pengunduran dirinya.Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden yang telah dipegang selama 32 tahun. Beliau mengucapkan terima kasih dan mohon maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Beliau kemudian digantikan B.J. Habibie. Sejak saat itu Indonesia memasuki era reformasi.

Namun tampaknya tak semudah itu reformasi dimenangkan oleh rakyat Indonesia karena ia meninggalkan kursi kepresidenan dengan menyerahkan secara sepihak tampuk kedaulatan rakyat begitu saja kepada Habibie. Ini mengundang perdebatan hukum dan penolakan dari masyarakat. Bahkan dengan tegas sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa Habibie bukan Presiden Indonesia. Mereka tetap bertahan di gedung DPR/MPR sampai akhirnya diserbu oleh tentara dan semua mahasiswa digusur dan diungsikan ke kampus-kampus terdekat. Paling banyak yang menampung mahasiswa pada saat evakuasi tersebut adalah kampus Atma Jaya Jakarta yang terletak di Semanggi.

Itulah periodisasi pergerakan mahasiswa yang bersatumelakukan aksi menentang Soeharto sejak pertengahan 1997 sampai mundurnya Soeharto pada 21 Mei 1998. Keberhasilan mahasiswa ini tidak terlepas dari berbagai unsur pendukung, seperti krisis moneter dan membelotnya para kroni Soeharto yang sering disebut dengan sebutan “brutus” pada waktu itu.

Gerakan mahasiswa sesaat sebelum Soeharto lengser ini dapat dikatakan sebagai perilaku yang bersifat kolektif, karena perilakunya cenderung pada perilaku kerumunan aksi dimana aksi demonstrasi mereka lakukan secara terus menerus dengan mengandalkan mobilisasi massa demi tujuan bersama. Menurut Blumer(http://syaldi.web.id), perilaku kerumunan yang bertindak dimana mereka mempunyai perhatian dan kegiatan yang ditujukan pada beberapa target atau objektif. Dalam kondisi perilaku kolektif, terdapat kesadaran kolektif dimana gagasan dan ide-ide yang awalnya hanya dimiliki oleh sekelompok mahasiswa dapat menyebar dengan begitu cepat sehingga menjadi milik mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya. Kekecewaan dan ketidakpuasan mahasiswa terhadap pemerintah disambut oleh masyarakat yang menjadi korban dari sistem yang ada. Aksi dari mahasiswa kemudian direspon oleh masyarakat melalui secara sukarela memberikan bantuan kepada para mahasiswa yang sedang mengadakan demonstrasi.

Fakta Sunami Aceh yang Jarang diketahui orang

Tuntutan gerakan mahasiswa saat sebelum kejatuhan rezim Orde Baru ini sangat terfokus, yakni tuntutan Soeharto untuk mundur. Sehingga tak heran bila gerakan ini dapat dimenangkan oleh mahasiswa, karena kekuatan gerakan mahasiswa semakin nyata terlihat setelah mereka semua dipersatukan melalui satu tujuan yang terfokus.

Gerakan Mahasiswa Setelah Soeharto Mengundurkan Diri 

Pengunduran diri Soeharto dan pengangkatan B.J. Habibie memberikan kemenangan bagi rakyat yang telah begitu lama menginginkan reformasi. Begitu pula dengan para mahasiswa, reformasi yang telah didamba-dambakan akhirnya datang juga pasca pengunduran diri Soeharto. Kehebatan mahasiswa menjadi buah bibir dikalangan pengamat peneliti dan rakyat, heroisme para aktivis 98 menjadi referensi aktivis gerakan, bahkan inspirasi dan imajinasi bawah sadar para aktivis.

Namun pasca Orde Baru mulai terjadi kegamangan dan eforiadikalangan mahasiswa. Mereka terlena akan datangnya reformasi, sehingga gerakan mereka pun tak terkonsilidasi dengan baik. Hal ini ditandai dengan terpecahnya kekuatan mahasiswa menjadi dua, yakni mahasiswa pro Habibie dan mahasiswa yang kontraHabibie. Perpecahan ini menandai terjadinya krisis identitas pada gerakan mahasiswa. Perbedaan visi yang muncul pada gerakan mahasiswa seringkali mengarah pada persoalan yang sifatnya teknis. Kenyataan demikian menyebabkan gerakan mahasiswa kehilangan arah dan bentuk.

Kehilangan arah dan bentuk gerakan ini menyebabkan sejumlah gerakan mahasiswa harus melakukan konsolidasi internal organisasi. Konsolidasi internal ini sebagai upaya untuk mencari format baru gerakan mahasiswa dalam konstalasi politik yang baru pula. Disamping itu konsolidasi internal ditujukan agar gerakan mahasiswa harus lebih intropeksi diri terhadap apa yang dilakukan.

Ditengah-tengah konsolidasi yang tengah dilakukan, para mahasiswa pun dihadapkan pada Sidang Istimewa (SI) yang dilaksanakan oleh MPR untuk menentukan Pemilu berikutnya dan membahas agenda-agenda pemerintahan yang akan dilakukan.Perlu diketahui bahwa para anggota MPR yang mengadakan SI tersebut kebanyakan masih merupakan warisan dari Orde Baru. Mahasiswa pun bergolak kembali karena mereka tidak mengakui pemerintahan ini dan mereka mendesak pula untuk menyingkirkan militer dari politik serta pembersihan pemerintahan dari orang-orang Orde Baru.Masyarakat dan mahasiswa yang menolak Sidang Istimewa 1998, juga menentang dwifungsi ABRI karena dwifungsi inilah salah satu penyebab bangsa ini tak pernah bisa maju sebagaimana mestinya, atau dengan kata lain menghambat kemajuan bangsa.

Pasca runtuhnya Orde Baru, ternyata masih ada peristiwa-peristiwa penting yang diwarnai oleh aksi dari gerakan mahasiswa. Berikut beberapa peristiwa penting yang terjadi pasca runtuhnya Orde Baru.

1)      Tragedi Semanggi

Banyaknya penolakan-penolakan terhadap SI MPR membuat aparat keamanan kembali bersiap untuk mengamankan jalannya sidang istimewa ini. Sepanjang diadakannya Sidang Istimewa itu masyarakat bergabung dengan mahasiswa setiap hari melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Peristiwa ini cukup mendapat banyak perhatian dari dunia internasional. Hampir seluruh sekolah dan universitas di Jakarta, tempat diadakannya Sidang Istimewa tersebut, diliburkan untuk mencegah mahasiswa berkumpul. Apapun yang dilakukan oleh mahasiswa mendapat perhatian ekstra ketat dari pimpinan universitas masing-masing karena mereka di bawah tekanan aparat yang tidak menghendaki aksi mahasiswa. Kendati demikian, tidak ada yang bisa membendung aksi mahasiswa, hingga pada tanggal 12 November 1998 ratusan ribu mahasiswa dan masyarakat bergerak menuju ke gedung DPR/MPR dari segala arah, Semanggi-Slipi-Kuningan, tetapi tidak ada yang berhasil menembus ke sana karena dikawal dengan sangat ketat oleh tentara, Brimob dan juga Pamswakarsa (pengamanan sipil yang bersenjata bambu runcing untuk diadu dengan mahasiswa). Pada malam harinya terjadi bentrok pertama kali di daerah Slipi dan puluhan mahasiswa masuk rumah sakit. Satu orang pelajar, yaitu Lukman Firdaus, terluka berat dan masuk rumah sakit, beberapa hari kemudian ia meninggal dunia.

Esok harinya Jum’at tanggal 13 November 1998 ternyata banyak mahasiswa dan masyarakat sudah bergabung dan mencapai daerah Semanggi dan sekitarnya, bergabung dengan mahasiswa yang sudah ada di depan kampus Atma Jaya Jakarta. Jalan Sudirman sudah dihadang oleh aparat sejak malam hari dan pagi hingga siang harinya jumlah aparat semakin banyak guna menghadang laju mahasiswa dan masyarakat. Kali ini mahasiswa bersama masyarakat dikepung dari dua arah sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dengan menggunakan kendaraan lapis baja.

Sejarah Gunung Krakatau dan Munculnya Anak Krakatau

Jumlah masyarakat dan mahasiswa yang bergabung diperkirakan puluhan ribu orang dan sekitar jam 3 sore kendaraan lapis baja bergerak untuk membubarkan massa membuat masyarakat melarikan diri, sementara mahasiswa mencoba bertahan namun saat itu juga terjadilah penembakan membabibuta oleh aparat dan saat di jalan itu juga sudah ada mahasiswa yang tertembak dan meninggal seketika di jalan. Ia adalah Teddy Wardhani Kusuma, merupakan korban meninggal pertama di hari itu.

Mahasiswa terpaksa lari ke kampus Atma Jaya untuk berlindung dan merawat kawan-kawan dan masyarakat yang terluka. Korban kedua penembakan oleh aparat adalah Bernadus R Norma Irawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya, Jakarta, tertembak di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir kampus Atma Jaya. Mulai dari jam 3 sore itu sampai pagi hari sekitar jam 2 pagi terus terjadi penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi dan saat itu juga lah semakin banyak korban berjatuhan baik yang meninggal tertembak maupun terluka. Gelombang mahasiswa dan masyarakat yang ingin bergabung terus berdatangan dan disambut dengan peluru dan gas airmata. Sangat dahsyatnya peristiwa itu hingga jumlah korban yang meninggal mencapai 15 orang, 7 mahasiswa dan 8 masyarakat.

2)      Tragedi Semanggi II

Untuk yang kesekian kalinya tentara melakukan tindak kekerasan kepada mahasiswa dalam menghentikan penolakan sikap mahasiswa terhadap pemerintahan. Lokasi penembakan mahasiswa pun di tempat yang sangat strategis yang dapat dipantau oleh banyak orang awam yaitu di bawah jembatan Semanggi, depan kampus Universitas Atma Jaya Jakarta, dekat pusat sentra bisnis nasional maupun internasional.

Kala itu adanya pendesakan oleh pemerintahan transisi untuk mengeluarkan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (UU PKB) yang materinya menurut banyak kalangan dan mahasiswa sangat memberikan keleluasaan kepada militer untuk melakukan keadaan negara sesuai kepentingan militer. Oleh karena itulah mahasiswa bergerak dalam jumlah besar untuk bersama-sama menentang diberlakukannya UU PKB karena ini menentang tuntutan mereka untuk menghilangkan dwifungsi ABRI. Namun dalam aksi kali ini Universitas Indonesia harus kehilangan seorang pejuang demokrasi mereka, yakni Yun Hap.

Kendati mendapatkan protes dan penolakan dari berbagai pihak, para anggota dewan tetap melanjutkan Sidang Istimewa, yang akhirnya menghasilkan keputusan untuk menyelenggarakan Pemilu tahun 1999. Sementara itu, para mahasiswa –setelah peristiwa Semanggi II– perlahan-lahan mulai menghentikan aksi-aksinya. Namun bukan berarti gerakan mereka hilang begitu saja, karena mereka selalu memantau segala kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Para mahasiswa juga menuntut pemerintah segera menyelesaikan kasus-kasus yang menyebabkan rekan-rekan mereka gugur dalam beberapa tragedi yang berlangsung sepanjang tahun 1998-1999. Sehingga ketika memasuki abad 21 tidak jarang masih terdapat aksi-aksi unjuk rasa kecil yang selalu mengiringi perjalanan menuju kesempurnaan reformasi.

Dampak Gerakan Reformasi Mahasiswa 1998 Terhadap Kehidupan Bangsa

Proses reformasi pada tahun 1998 telah berdampak besar dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Secara umum, terdapat beberapa perubahan sosial yang terjadi:

Pertama, yang paling dirasakan dan dapat dilihat dengan jelas adalah jatuhnya rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun. Selama berkuasa, rezim Orde Baru selalu mengedepankan tindakan represif dalam menjaga kelanggengan kekuasaannya. Mundurnya presiden Soehartotelah menjadi tolok ukur dari dari perubahan tersebut. Namun, banyak pula kalangan melihat bahwa mundurnya Soeharto tidak akan memberikan kontribusi terhadap perubahan yang diinginkan.

Kedua, seiring dengan jatuhnya rezim Orde Baru maka berdampak pada struktur pemerintahan. Dalam berbagai tuntutannya, mahasiswa menganggap bahwa struktur pemerintahan di masa Orde Baru menjadi instrumen penindasan terhadap masyarakat. Ini jelas sangat dirasakan oleh para mahasiswa yang telah dibungkam melalui pemberlakuan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Selain itu, mahasiswa menilai bahwa aparat negara, militer pada khususnya juga menjadi alat pelanggeng kekuasaan. Oleh karena itu, tuntutan yang muncul dari mahasiswa adalah mengembalikan posisi militer pada fungsinya. Salah satu contoh perubahan adalah dicabutnya dwifungsi ABRI.

Ketiga, perubahan sistem politik di Indonesia. Walaupun sering dikatakan bahwa paham yang dianut oleh sistem politik Indonesia adalah demokrasi, ini jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh masyarakat. Perbedaan pendapatyang kerap kali dianggap mengganggu stabilitasmenjadi hal yang dilarang di masa Orde Baru. Aspirasi politik dari masyarakat kemudian dipersempit dengan sistem tiga partai yang jelas tidak berpihak pada masyarakat. Oleh karena itu salah satu tuntutan mahasiswa pada tahun 1998 adalah melakukan pemilihan umum (pemilu) dalam waktu dekat. Salah satu contoh perubahan dekat adalah pelaksanaan sistem pemilihan umum langsung yang dilaksanakan pada tahun 2004.

Seperti yang telah disampaikan diatas, perubahan sosial juga akan mempengaruhi nilai-nilai, sikap dan pola perilaku dalam sistem sosial masyarakat. Dalam konteks reformasi pada tahun 1998, terjadi perubahan-perubahan yang cukup signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Pengekangan yang dulu dilakukan oleh rezim Orde Baru diberbagai sektor berangsur-angsur dihilangkan. Sebagai salah satu contoh adalah kebebasan berpendapat yang dulu menjadi ‘barang haram’ sekarang relatif lebih terbuka. Kemudian isu tentang nilai-nilai Hak Asasi Manusia kemudian menjadi salah satu indikator dalam pembangunan. Masyarakat yang dulunya apolitis dan cenderung pasif pada sistem politik terdahulu mulai terlibat dalam berbagai kegiatan politik praktis. Sebagai salah satu indikator adalah berdirinya berbagai partai politik di Indonesia.

***

KESIMPULAN 

Disini dapat dilihat bahwa gerakan mahasiswa pada tahun 1998 adalah sebuah bentuk gerakan reformasi yang menuntut perubahan sosial, dimana perubahan sosial yang terjadi merupakan upaya untuk memajukan masyarakat tanpa mengubah struktur dasarnya, sehingga gerakan ini dapat digolongkan pada gerakan reform dan bukan gerakan yang sifatnya radikal. Gerakan mahasiswa saat itu melihat bahwa untuk menjawab permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia adalah pergantian rezim otoriter yang berkuasa dengan menggunakan isu-isu moral.

Gerakan mahasiswa 1998 inibanyak mengundang kekaguman,tidak hanya bagi publik di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Berbeda dengan gerakan mahasiswa 1966 atau tahun-tahun sesudahnya yangmemunculkan sejumlah tokoh dan pemimpin, gerakan mahasiswa 1998 nyarisbergerak tanpa pemimpin. Gerakan itu juga muncul tanpa didasarkan sebuahwacana dan agenda yang jelas, kecuali mengkristalnya  musuh bersama bernamaSoeharto. Tahun-tahun represif menyebabkan mahasiswa memilih sebuah gerakan tanpa tokoh. Bahkan sebagianbesar pemimpin simpul gerakan adalah para aktivis yang sama sekali baru danrelatif tidak terlibat dalam aksi-aksi sebelumnya.

Seluruh karakteristik itu menjadi kekuatan sekaligus kelemahan gerakanmahasiswa 1998. Kekuatan karena dengan karakteristik itu gerakan mahasiswatidak mudah terpatahkan. Kelemahan karena kemudian terbukti bahwa perjuanganmahasiswa menjadi tidak mempunyai arah yang jelas, dan kemudiansadar atautidak–justru dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan di luar mereka.

Lumayan kan kalo tetangganya ada wifi
Dijamin berhasil. Kalo ada kendala dm aja bakal gw bantu, ig ada di video

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s